Jika Allah mentakdirkan kita menang. Lalu kemudian memimpin dan melayani umat dan masyarakat Manggarai Barat. Lalu pertanyaanya kemudian adalah apakah kemudian persoalan kita selesai?. Jawabanya tidak. Justru kita menang dan memimpin persoalan akan semakin rumit dan kompleks. Karena semakin tinggi pohon menjulang ke langit, semakin besar pula peluang untuk diterpa angin. Ada begitu banyak dinamika yang kita hadapi, yang kalau tidak diantisipasi sejak dini, persoalanya akan membias dan membesar. Kita mungkin efuria dengan kemenangan. Tapi apa ia, efuria itu sejalan dengan profesionalitas kinerja kita. Jika ia tidak sejalan, tepatlah yang di katakan Anis Matta, “kadang jabatan-jabatan besar akan meruntuhkan harga diri kita, wibawa dan kerhotaman kita. Manakala jabatan-jabatan besar itu, tidak sepadan dengan kemampuan yang kita miliki.”
Kita mungkin kelabakan, seandainya paket perpaduan Anton Bagul dan H. Abdul Azis pada pemilukada kemarin mulus laju menuju tahta kekuasaan. Kelabakan karena mungkin suporting sistem kekuasaan kita lemah. Atau kelabakan karena penyangga kemenangan kita tidak kuat. Mestinya juga kita bertanya, ada berapa kader muslim yang kini menduduki jabatan struktural di lingkup SKPD Manggarai Barat ? ada berapa kader muslim yang eselon I, eselon II dan seterusnya ? dari semua itu, ada berapa kader muslim yang memiliki kualifikasi administrasi dan kompetensi untuk menjadi kepala dinas, kepala bidang dan kepala seksi ?. Hal-hal seperti inilah yang saya maksudkan dengan penyangga kemenangan atau suporting kekuasaan. Dan ini penting bagi kita, jika kita ingin menang dan memimpin.
Musuh dalam selimut, atau seperti duri dalam daging. Adalah mungkin kata-kata yang tepat jika tidak adanya keterpaduan antara kekuasaan dan penyangga kekuasaan (tidak adanya keterpaduan antara ekskutif dengan SKPD). Kekuasaan itu akan langgeng dan kuat, jika ia di topang oleh penyangga yang kuat juga. Ia akan menjadi bumerang dan akan merong-rong kekuasaan jika tidak ada keselarsan kata dan langkah antara ekskutif dan SKPD. Ada banyak pemimpin di negeri ini yang jatuh karena ulah bawahannya. Gusdur lengser dari tampuk kekuasaan karena penyangga kekuasaanya tidak kuat. Ia sering gonta-ganti menteri.
Dalam hemat saya, proses PNS sisasi kader muslim mungkin merupakan salah satu langkah yang cerdas, sebagai upaya mengisi kekosongan kader muslim di birokrasi. Dan bagi kader muslim yang kini duduk di birokrasi, harus sadar bahwa kebereadaan mereka adalah representasi dari umat. Dan karenanya mereka harus mengedapankan asas profesionalisme dalam bekerja. Serta tidak bertekuk lutut pada harta dan haus akan kekuasaan. Semua kita tentu ingin menang dan memimpin dengan cara-cara yang layak dan berwibawa. Tentu ini akan terwujud jika kita memiliki penyangga kekuasaan yang kuat dan suporting sistem kemenangan yang kuat pula. Biarlah kelak rakyat Manggarai Barat akan mengatakan “Mereka memang layak untuk Memimpin”.
Oleh : Sumardi
Ketua DPD PKS Manggarai Barat
Sabtu, 30 April 2011
Selasa, 14 Desember 2010
PKS MABAR Bantu Korban Banjir Siru
DPD PKS Manggarai Barat memberikan bantuan beras kepada 40 KK korban banjir di Dusun Ngalor Kalo Desa Siru Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat. Demikian di ungkapkan Sumardi, S.Pd Ketua DPD PKS Manggarai Barat. Selain Ketua DPD PKS Manggarai Barat kegiatan tersebut, juga hadir dua anggota DPRD dari PKS Manggarai Barat Syakar A. Jangku, M.Si dan Rusding SE. DPD PKS Manggarai Barat di terima secara adat oleh H. Mustafa Ibrahim Tu’a Golo Siru bersama warga dan sejumlah tokoh masyarakat setempat.
Pada kesempatan tersbut H. Syamsudin, S.PdI, salah seorang tokoh masyakat Dusun Ngalor Kalo, meminta kepada DPRD untuk memperhatikan kondisi dusunya yang hampir setiap tahun terancam banjir. Ia juga meminta agar di lakukan pengerukan dan pelebaran terhadap sungai Kalo mengingat sungai tersebut sudah dangkal akibat tumpukan material banjir. Di samping itu, masyarakat juga berharap sekiranya pemerintah dibuatkan tanggul sepanjang sungai yang di huni warga.
Menanggapi permintaan tersebut, Syakar A. Jangku, M.Si mengatakan dirinya bersama Rusding, SE dan beberapa anggota DPRD Dapil Lembor akan membahas persoalan ini di tingkat dewan. Bahkan, Syakar A. Jangku, M. Si yang juga merupakan anggoata Komisi DPRD Kabupaten Manggarai Barat berjanji, akan mengkomunikasikan persoalan tersebut pada Drs. Agustinus Ch Dulla, Bupati Manggarai Barat. Banjir yang terjadi pada hari Jum’at (10/12/2010) disebabkan meluapnya sungai Kalo setelah di guyur hujan sepanjang hari. Tidak ada korban jiwa dalam bencana naas tersebut. namun sekitar 50 rumah warga banjir setinggi lutut orang dewasa. [smr]
Pada kesempatan tersbut H. Syamsudin, S.PdI, salah seorang tokoh masyakat Dusun Ngalor Kalo, meminta kepada DPRD untuk memperhatikan kondisi dusunya yang hampir setiap tahun terancam banjir. Ia juga meminta agar di lakukan pengerukan dan pelebaran terhadap sungai Kalo mengingat sungai tersebut sudah dangkal akibat tumpukan material banjir. Di samping itu, masyarakat juga berharap sekiranya pemerintah dibuatkan tanggul sepanjang sungai yang di huni warga.
Menanggapi permintaan tersebut, Syakar A. Jangku, M.Si mengatakan dirinya bersama Rusding, SE dan beberapa anggota DPRD Dapil Lembor akan membahas persoalan ini di tingkat dewan. Bahkan, Syakar A. Jangku, M. Si yang juga merupakan anggoata Komisi DPRD Kabupaten Manggarai Barat berjanji, akan mengkomunikasikan persoalan tersebut pada Drs. Agustinus Ch Dulla, Bupati Manggarai Barat. Banjir yang terjadi pada hari Jum’at (10/12/2010) disebabkan meluapnya sungai Kalo setelah di guyur hujan sepanjang hari. Tidak ada korban jiwa dalam bencana naas tersebut. namun sekitar 50 rumah warga banjir setinggi lutut orang dewasa. [smr]
Hambatan Psikologis Pemimpin PKS MABAR
oleh : Sumardi, S.Pd [Ketua DPD PKS Manggarai Barat]
Semua orang, apapun latar belakangnya, pekerjaannya, disiplin ilmu yang digelutinya dapat menjadi pemimpin. Namun begitu jadi pemimpin, ia harus bisa beradaptasi dengan tuntutan tugas barunya. Tantangan ketua PKS Mangarai Barat yang paling utama adalah ia harus berpikir, berbicara dan bertindak menjadi seorang ketua PKS Manggarai Barat. Bukan lagi ia berpikir, berbicara dan bertindak layaknya anak ingusan yang masih belia. Menjadi pemimpin pada usia yang relatif muda memang memiliki kendala psikologis yang teramat berat. Ia tidak hanya di hadapkan dengan teman seusia dan sebaya dalam perjuanganya. Tapi ia juga dihadapkan dengan mereka yang memiliki wawasan pengetahuan yang luas , memiliki pengalaman empiris yang amat mendalam.
Tapi tidak kemudian ia terlarut jauh dalam hambatan psikologis itu. Ia harus memiliki tekad untuk melakukan akselerasi pembelajaran dalam segala hal. Termasuk dalam keberanian untuk mengambil keputusan. Kaliber seorang pemimpin dapat di ukur dari kemampuannya dalam mengambil keputusan. Keberanian seorang pemimpin dapat diukur dari resiko yang diambilnya. Kalau resikonya kecil, maka keputusannya biasa-biasa saja. Tapi, kalau resikonya besar, baru keputusan itu dianggap berani. Pemimpin yang tidak pernah mengambil resiko dalam setiap keputusan tidak akan mencapai prestasi besar.
Menjadi tua itu pasti. Tapi, menjadi dewasa itu mungkin pilihan. Menjadi pemimpin pada usia belia, membuatnya untuk terus belajar menjadi orang dewasa, yang bijaksana dalam setiap tindakan, dan tepat sasaran dalam setiap keputusan. Dan sebetulnya, disinilah kepemimpinan muda akan teruji, akankah mereka mampu mengejewantahkan idealisme intelektualnya untuk kemudian menyapa realitas masyatakat ?. Konsep, gagasan, dan ide anak-anak muda di sini akan teruji. Akankah mereka mampu memberikan kekuatan pada alam pikiran untuk kemudian merubahnya menjadi tindakan nyata ?. Hanya waktu yang akan menjawab.
Semua orang, apapun latar belakangnya, pekerjaannya, disiplin ilmu yang digelutinya dapat menjadi pemimpin. Namun begitu jadi pemimpin, ia harus bisa beradaptasi dengan tuntutan tugas barunya. Tantangan ketua PKS Mangarai Barat yang paling utama adalah ia harus berpikir, berbicara dan bertindak menjadi seorang ketua PKS Manggarai Barat. Bukan lagi ia berpikir, berbicara dan bertindak layaknya anak ingusan yang masih belia. Menjadi pemimpin pada usia yang relatif muda memang memiliki kendala psikologis yang teramat berat. Ia tidak hanya di hadapkan dengan teman seusia dan sebaya dalam perjuanganya. Tapi ia juga dihadapkan dengan mereka yang memiliki wawasan pengetahuan yang luas , memiliki pengalaman empiris yang amat mendalam.
Tapi tidak kemudian ia terlarut jauh dalam hambatan psikologis itu. Ia harus memiliki tekad untuk melakukan akselerasi pembelajaran dalam segala hal. Termasuk dalam keberanian untuk mengambil keputusan. Kaliber seorang pemimpin dapat di ukur dari kemampuannya dalam mengambil keputusan. Keberanian seorang pemimpin dapat diukur dari resiko yang diambilnya. Kalau resikonya kecil, maka keputusannya biasa-biasa saja. Tapi, kalau resikonya besar, baru keputusan itu dianggap berani. Pemimpin yang tidak pernah mengambil resiko dalam setiap keputusan tidak akan mencapai prestasi besar.
Menjadi tua itu pasti. Tapi, menjadi dewasa itu mungkin pilihan. Menjadi pemimpin pada usia belia, membuatnya untuk terus belajar menjadi orang dewasa, yang bijaksana dalam setiap tindakan, dan tepat sasaran dalam setiap keputusan. Dan sebetulnya, disinilah kepemimpinan muda akan teruji, akankah mereka mampu mengejewantahkan idealisme intelektualnya untuk kemudian menyapa realitas masyatakat ?. Konsep, gagasan, dan ide anak-anak muda di sini akan teruji. Akankah mereka mampu memberikan kekuatan pada alam pikiran untuk kemudian merubahnya menjadi tindakan nyata ?. Hanya waktu yang akan menjawab.
Ide Kecil Membangun PKS MABAR
Oleh : Sumardi, S.Pd [Ketua DPD PKS Manggarai Barat]
Musyawarah Daerah DPD PKS Manggarai Barat sudah usai. Tentu, ada banyak harapan yang di emban pemimpin terpilih. Setidaknya harapan itu, PKS Manggarai Barat harus sedikit lebih baik dari periode kepengurusan sebelumnya, atau ada semacam akselerasi perubahan di tubuh Partai Dakwah tersebut. Pemimpin terpilih harus mampu melanjutkan program-program yang sudah di desain kepengurusan sebelumnya. Tidak hanya itu, pemimpin terpilih juga harus mampu melakukan inovasi-inovasi dan terobosan-terobosan baru dalam mengkreat program sesuai kebutuhan masyarakat.
Tantangan kepengurusan kedepanya memang teramat berat.Dan oleh karenanya, harus segera melakukan Konsolidasi Personal dan Konsolidasi Struktural. Konsolidasi personal dilakukan guna mempersiapkan sumber daya kader yang tangguh untuk mendukung dan menopang semua program partai. Kader Partai harus di beri pemahaman yang utuh, agar mereka bekerja maksimal dan dengan niat yang ikhlas serta mengharap ridho Allah. Konsolidasi struktural di maksudkan guna mempersiapkan struktur partai hingga ke tingkat desa sebagai ujung tombak perjuangan. Untuk mewujudkan akselerasi perubahan yang di maksud, setidaknya ada beberapa hal yang mesti dilakukan kepengurusan periode 2010 – 2015, di antaranya :
Pertama Memperkuat Struktur Partai. Ini di lakukan dengan segera melakukan Musyawarah Cabang dan Musyawarah Ranting, untuk melakukan restrukturisasi atau reposisi kepengurusan di tingkat Kecamatan dan tingkat Desa
Kedua Membangun Jaringan Sosial. Adanya upaya dari kader pada semua level struktur untuk dapat mengintegrasikan diri kedalam berbagai kegiatan masyarakat dan turut berperan aktif dalam merencanakan maupun dalam pelaksanaan kegiatan. Kaser PKS harus mampu membangun komunikasi dengan simpul-simpul kekuatan masyarakat, seperti tokoh agama, tokoh budaya, tokoh pemuda, tokoh perempuan, ormas, LSM, dan kalangan pers. Di sinilah kemampuan komunikasi massa dan kelihaian diplomasi kader PKS teruji. Ide, gagasan, pemikiran, dan konsep-konsep kader PKS harus mampu mempengaruhi pola pikir simpul-simpul kekuatan masyarakat tersebut.
Ketiga Mensosialisasikan PKS sebagai Partai Terbuka. Munas ke-2 PKS mempertegas kembali bahwa, PKS adalah partai terbuka. Tidak ada lagi sekat-sekat primordialisme, etnis, budaya, ras dan agama dalam PKS. PKS terbuka bagi semua golongan dan agama. Siapa saja boleh menjadi orang PKS selama ia mengikuti dan mematuhi aturan main yang telah di tetapkan PKS.
Keempat hilangkan kesan ekslusivisme. Ekslusivisme, masih menutup diri dari pergaulan sosial mungkin di antara tantangan yang harus segera di jawab oleh kader PKS. Dalam pandangan banyak orang, PKS masih berkutat membentuk keshalihan individu, mereka belum melampau jauh dalam upaya membentuk keshalihan sosial. Dan oleh karenanya, pergaulan kita jangan hanya di antara sesama kader saja. Yakinlah bahwa, di luar sana masih banyak orang yang ingin bergabung dengan PKS.
Kelima memabangun relasi dengan Pers. Membangun relasi dengan pers adalah sebuah keharusan bagi PKS. Media memiliki peran yang strategis untuk mensosialisasikan program, ide, gagasan dan pemikiran-pemikiran kader PKS. Tidak hanya itu, media juga merupakan salah satu sarana untuk merekayasa ketokohan kader. Setidaknya, dalam satu tahun tiga atau empat kali program, ide, gagasan dan pemikiran-pemikiran kader PKS atau isu-isu aktual yang di daerah harus di respon oleh PKS untuk kemudian di muat di Pos Kupang atau Suara Flores. Dan oleh karenanya, PKS harus mengalokasikan anggaran khusus untuk pers
Gagasan-gagasan di atas tidak akan dapat menyapa realita. Ide-ide tersebut tidak akan wujud menjadi tindakan nyata, jika tidak adanya kemauan yang kuat dan tekad yang membaja untuk merealisasikannya dari kader-kader PKS. Ia akan menjadi realitas jika terbentuk team work yang kuat, semangat pengorbanan yang tinggi dan landasi dengan kerja ikhlas dari kader PKS pada semua level strukur. Dengan penuh kesadaran yang mendalam. Saya yakin dan percaya bahwa gagasan-gagasan dan ide-ide di atas masih jauh dari kesmpurnaan. Dan oleh karenanaya, masukan-masukan ataupun kritikan-kritkan yang konstrktif dari kita semua sangat kami harapkan
Musyawarah Daerah DPD PKS Manggarai Barat sudah usai. Tentu, ada banyak harapan yang di emban pemimpin terpilih. Setidaknya harapan itu, PKS Manggarai Barat harus sedikit lebih baik dari periode kepengurusan sebelumnya, atau ada semacam akselerasi perubahan di tubuh Partai Dakwah tersebut. Pemimpin terpilih harus mampu melanjutkan program-program yang sudah di desain kepengurusan sebelumnya. Tidak hanya itu, pemimpin terpilih juga harus mampu melakukan inovasi-inovasi dan terobosan-terobosan baru dalam mengkreat program sesuai kebutuhan masyarakat.
Tantangan kepengurusan kedepanya memang teramat berat.Dan oleh karenanya, harus segera melakukan Konsolidasi Personal dan Konsolidasi Struktural. Konsolidasi personal dilakukan guna mempersiapkan sumber daya kader yang tangguh untuk mendukung dan menopang semua program partai. Kader Partai harus di beri pemahaman yang utuh, agar mereka bekerja maksimal dan dengan niat yang ikhlas serta mengharap ridho Allah. Konsolidasi struktural di maksudkan guna mempersiapkan struktur partai hingga ke tingkat desa sebagai ujung tombak perjuangan. Untuk mewujudkan akselerasi perubahan yang di maksud, setidaknya ada beberapa hal yang mesti dilakukan kepengurusan periode 2010 – 2015, di antaranya :
Pertama Memperkuat Struktur Partai. Ini di lakukan dengan segera melakukan Musyawarah Cabang dan Musyawarah Ranting, untuk melakukan restrukturisasi atau reposisi kepengurusan di tingkat Kecamatan dan tingkat Desa
Kedua Membangun Jaringan Sosial. Adanya upaya dari kader pada semua level struktur untuk dapat mengintegrasikan diri kedalam berbagai kegiatan masyarakat dan turut berperan aktif dalam merencanakan maupun dalam pelaksanaan kegiatan. Kaser PKS harus mampu membangun komunikasi dengan simpul-simpul kekuatan masyarakat, seperti tokoh agama, tokoh budaya, tokoh pemuda, tokoh perempuan, ormas, LSM, dan kalangan pers. Di sinilah kemampuan komunikasi massa dan kelihaian diplomasi kader PKS teruji. Ide, gagasan, pemikiran, dan konsep-konsep kader PKS harus mampu mempengaruhi pola pikir simpul-simpul kekuatan masyarakat tersebut.
Ketiga Mensosialisasikan PKS sebagai Partai Terbuka. Munas ke-2 PKS mempertegas kembali bahwa, PKS adalah partai terbuka. Tidak ada lagi sekat-sekat primordialisme, etnis, budaya, ras dan agama dalam PKS. PKS terbuka bagi semua golongan dan agama. Siapa saja boleh menjadi orang PKS selama ia mengikuti dan mematuhi aturan main yang telah di tetapkan PKS.
Keempat hilangkan kesan ekslusivisme. Ekslusivisme, masih menutup diri dari pergaulan sosial mungkin di antara tantangan yang harus segera di jawab oleh kader PKS. Dalam pandangan banyak orang, PKS masih berkutat membentuk keshalihan individu, mereka belum melampau jauh dalam upaya membentuk keshalihan sosial. Dan oleh karenanya, pergaulan kita jangan hanya di antara sesama kader saja. Yakinlah bahwa, di luar sana masih banyak orang yang ingin bergabung dengan PKS.
Kelima memabangun relasi dengan Pers. Membangun relasi dengan pers adalah sebuah keharusan bagi PKS. Media memiliki peran yang strategis untuk mensosialisasikan program, ide, gagasan dan pemikiran-pemikiran kader PKS. Tidak hanya itu, media juga merupakan salah satu sarana untuk merekayasa ketokohan kader. Setidaknya, dalam satu tahun tiga atau empat kali program, ide, gagasan dan pemikiran-pemikiran kader PKS atau isu-isu aktual yang di daerah harus di respon oleh PKS untuk kemudian di muat di Pos Kupang atau Suara Flores. Dan oleh karenanya, PKS harus mengalokasikan anggaran khusus untuk pers
Gagasan-gagasan di atas tidak akan dapat menyapa realita. Ide-ide tersebut tidak akan wujud menjadi tindakan nyata, jika tidak adanya kemauan yang kuat dan tekad yang membaja untuk merealisasikannya dari kader-kader PKS. Ia akan menjadi realitas jika terbentuk team work yang kuat, semangat pengorbanan yang tinggi dan landasi dengan kerja ikhlas dari kader PKS pada semua level strukur. Dengan penuh kesadaran yang mendalam. Saya yakin dan percaya bahwa gagasan-gagasan dan ide-ide di atas masih jauh dari kesmpurnaan. Dan oleh karenanaya, masukan-masukan ataupun kritikan-kritkan yang konstrktif dari kita semua sangat kami harapkan
PKS Bukan Sekedar Partai Politik
Wawancara dengan Syakar A. Jangku, M.Si [Anggota DPRD PKS MABAR]
Menjelang MUSDA II PKS Manggarai Barat
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bukan hanya sekedar Partai Poltik an sich, seperti partai-partai politik pada umumnya. Tapi ia juga adalah partai Dakwah, yang mengajak masyarakat untuk terus melakukan kebaikan serta mencegah kemungkaran dan praktek-praktek KKN yang dapat merusak tatanan kehidupan bermasyarakat. Dan bagi PKS, politik-kekuasaan bukan merupakan tujuan akhir dari perjuangannya. Tapi politik-kekuasaan dalam persepektif PKS, hanya sarana perjuangan dalam kerangka mewujudkan masyarakat yang madani, adil dan sejahtera. Dan kader PKS harus benar-benar memahami ini. Demikian di ungkapkan Syakar A. Jangku, M.Si, Anggota DPRD PKS Manggarai Barat.
Masyarakat Madani yang di dambakan PKS, dalam pandangan Sykara A. Jangku, M.Si adalah masyarakat yang berperadaban tinggi dan maju, yang berbasiskan pada nilai-nilai, norma, hukum dan moral yang di topang oleh semangat keimanan, menghormati pluralitas, terbuka dan demokratis dengan mengedapankan asas keadilan.
Untuk memerangi keterbelakangan, kemisikinan dan praktek-praktek KKN, harus ada langkah-langkah strategis dan kemauan politik dari politisi PKS. Dan pada saat yang sama, PKS menyadari bahwa membangun Manggarai Barat yang multi etnik, agama ras dan budaya, tidak bisa di lakukan oleh sekelompok golongan tertentu saja. Dan oleh karenanya, membangun diskusi dan komunikasi dengan para politisi-politisi lain adalah sebuah keharusan yang harus di lakoni para politis PKS dalam upaya memerangi keterbelakangan, kemiskinan dan praktek-prakte KKN.
Lebih jauh Syakar A. Jangku, M.Si, mengatakan, PKS Manggarai Barat kedepannya harus terus melakukan komunikasi dengan tokoh-tokoh, simpul-simpul kekuatan umat, ormas-ormas Islam. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menyatukan potensi umat dan cara pandang umat dalam melihat realitas umat saat ini. PKS Manggarai Barat harus mampu menjadi lokomotif persatuan umat. PKS harus mampu menjadi problem solver ummat dan masyarakat pada umumnya, kehadirannya harus mampu membawa keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Kepemimpinan PKS yang di harapkan Syakar A. Jangku, M.Si kedepannya, haruslah yang memiliki cara pandang yang komperhensif dalam menata organisasi secara profesional. Konsolidasi personal dan struktural harus menjadi agenda politik Pemimpin PKS kedepannya. Di samping itu Syakar A. Jangku, M.Si juga berharap, pemimpin PKS juga harus memiliki inovasi berpikir, kreatif dalam mengkreasi program serta cepat dalam menanggapi persoalan umat
Menjelang MUSDA II PKS Manggarai Barat
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bukan hanya sekedar Partai Poltik an sich, seperti partai-partai politik pada umumnya. Tapi ia juga adalah partai Dakwah, yang mengajak masyarakat untuk terus melakukan kebaikan serta mencegah kemungkaran dan praktek-praktek KKN yang dapat merusak tatanan kehidupan bermasyarakat. Dan bagi PKS, politik-kekuasaan bukan merupakan tujuan akhir dari perjuangannya. Tapi politik-kekuasaan dalam persepektif PKS, hanya sarana perjuangan dalam kerangka mewujudkan masyarakat yang madani, adil dan sejahtera. Dan kader PKS harus benar-benar memahami ini. Demikian di ungkapkan Syakar A. Jangku, M.Si, Anggota DPRD PKS Manggarai Barat.
Masyarakat Madani yang di dambakan PKS, dalam pandangan Sykara A. Jangku, M.Si adalah masyarakat yang berperadaban tinggi dan maju, yang berbasiskan pada nilai-nilai, norma, hukum dan moral yang di topang oleh semangat keimanan, menghormati pluralitas, terbuka dan demokratis dengan mengedapankan asas keadilan.
Untuk memerangi keterbelakangan, kemisikinan dan praktek-praktek KKN, harus ada langkah-langkah strategis dan kemauan politik dari politisi PKS. Dan pada saat yang sama, PKS menyadari bahwa membangun Manggarai Barat yang multi etnik, agama ras dan budaya, tidak bisa di lakukan oleh sekelompok golongan tertentu saja. Dan oleh karenanya, membangun diskusi dan komunikasi dengan para politisi-politisi lain adalah sebuah keharusan yang harus di lakoni para politis PKS dalam upaya memerangi keterbelakangan, kemiskinan dan praktek-prakte KKN.
Lebih jauh Syakar A. Jangku, M.Si, mengatakan, PKS Manggarai Barat kedepannya harus terus melakukan komunikasi dengan tokoh-tokoh, simpul-simpul kekuatan umat, ormas-ormas Islam. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menyatukan potensi umat dan cara pandang umat dalam melihat realitas umat saat ini. PKS Manggarai Barat harus mampu menjadi lokomotif persatuan umat. PKS harus mampu menjadi problem solver ummat dan masyarakat pada umumnya, kehadirannya harus mampu membawa keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat.
Kepemimpinan PKS yang di harapkan Syakar A. Jangku, M.Si kedepannya, haruslah yang memiliki cara pandang yang komperhensif dalam menata organisasi secara profesional. Konsolidasi personal dan struktural harus menjadi agenda politik Pemimpin PKS kedepannya. Di samping itu Syakar A. Jangku, M.Si juga berharap, pemimpin PKS juga harus memiliki inovasi berpikir, kreatif dalam mengkreasi program serta cepat dalam menanggapi persoalan umat
Selasa, 23 November 2010
Ketika Penyakit Superioritas Melanda Aktivis Dakwah
Nampaknya, sudah terlampau jauh kita melangkah dalam dakwah. Dalam rentangan waktu itu pula, ada banyak dinamika yang kita lalui dan kita lewati. Dinamika itu, semestinya semakin mendewasakan kita dalam menghadapi persoalan dan tantangan dakwah. Namun dalam kenyataannya, justru kita terus menggerutu dan masih jalan ditempat dalam menyikapi dinamika itu. Belum dewasa dalam menghadapi persoalan dan tantangan dakwah, itu mungkin menjadi tantangan kita. Menjadi orang tua itu pasti, namun menjadi dewasa itu mungkin pilihan.
Superioritas, memandang diri lebih dari yang lainnya, juga diantara penyakit-penyakit dakwah yang dalam hemat saya yang tengah kita hadapi saat ini. Superioritas intelektual, menjadikan pelakunya merasa paling bisa, paling hebat, paling pandai. Sehingga, yang ada dalam benaknya adalah, kalau bukan saya pekerjaan itu tidak tuntas. Superioritas usia tarbawiyah, penyakit ini menghantarkan pelakunya pada sikap acuh tak acuh dan apatis dengan yang lainnya. Sikap ini, biasanya terekespresi dalam mengemukakan pendapat dalam majelis syuro, seolah memberikan instruksi yang mesti di amini oleh orang-orang disekitarnya.
Superioritas ruhiyah, penyakit ini akan dapat membuat pelakunya merasa amal ibadahnya lebih baik dari yang lainnya, dan ini dapat terlihat dari ekspresi dirinya ketika menyampaikan tausiyah-tausiyah ruhaniyah. Muatan tausiyahnya seolah menggurui dengan yang lainnya. Sementara pada saat yang sama kita lupa bahwa, David Beckham kapten Timnas andalan Inggris menjadi pemain terbaik dunia, karena ia di topang oleh tim kesebelasan yang handal, solid dan kuat. Saya, dan juga mungkin kita semua berharap bahwa, sekiranya catatan-catatan kecil ini, akan menjadi bahan refleksi dan evaluasi diri, refleksi dan evaluasi jama’ah dakwah. Sehingga kita mampu, dan dapat menatap dakwah dengan langkah yang sedikit agak mantap dari sebelumnya. Wallahu’alam
[Oleh : Sumardi, S.Pd, Ketua Bidang Dakwah dan Kaderisasi DPD PKS Manggarai Barat]
Superioritas, memandang diri lebih dari yang lainnya, juga diantara penyakit-penyakit dakwah yang dalam hemat saya yang tengah kita hadapi saat ini. Superioritas intelektual, menjadikan pelakunya merasa paling bisa, paling hebat, paling pandai. Sehingga, yang ada dalam benaknya adalah, kalau bukan saya pekerjaan itu tidak tuntas. Superioritas usia tarbawiyah, penyakit ini menghantarkan pelakunya pada sikap acuh tak acuh dan apatis dengan yang lainnya. Sikap ini, biasanya terekespresi dalam mengemukakan pendapat dalam majelis syuro, seolah memberikan instruksi yang mesti di amini oleh orang-orang disekitarnya.
Superioritas ruhiyah, penyakit ini akan dapat membuat pelakunya merasa amal ibadahnya lebih baik dari yang lainnya, dan ini dapat terlihat dari ekspresi dirinya ketika menyampaikan tausiyah-tausiyah ruhaniyah. Muatan tausiyahnya seolah menggurui dengan yang lainnya. Sementara pada saat yang sama kita lupa bahwa, David Beckham kapten Timnas andalan Inggris menjadi pemain terbaik dunia, karena ia di topang oleh tim kesebelasan yang handal, solid dan kuat. Saya, dan juga mungkin kita semua berharap bahwa, sekiranya catatan-catatan kecil ini, akan menjadi bahan refleksi dan evaluasi diri, refleksi dan evaluasi jama’ah dakwah. Sehingga kita mampu, dan dapat menatap dakwah dengan langkah yang sedikit agak mantap dari sebelumnya. Wallahu’alam
[Oleh : Sumardi, S.Pd, Ketua Bidang Dakwah dan Kaderisasi DPD PKS Manggarai Barat]
Menterjemahkan Visi Misi PKS dengan Pendekatan Budaya
Tanggapan atas Comment Kae Ahmad Adil* atas tulisan saya "AMBISI POLITIK PKS MABAR)
Nampaknya menarik untuk merespon masukan-masukan dan rekomendasi-rekomendasi Kae Ahmad Adil atas tulisan saya di akun facebook tentang “AMBISI POLITIK PKS Manggarai Barat ”. Satu hal yang mesti kita apresiasi adalah bahwa, Kae Ahmad Adil merasa PKS adalah bagian yang terintegral dari dirinya, karenanya ia memberikan rekomendasi-rekomendasi yang ilmiah untuk kemajuan PKS Manggarai Barat, dan ini sebetulnya bukti tanggung jawab moralnya atas realitas PKS Manggarai Barat dan kondisi umat Islam di Manggarai Barat saat ini. Sebagai putra asli Manggarai Barat, yang berada diperantuan Kae Ahmad Adil terus memantau perkembangan PKS Manggarai Barat. Pertanyaannya kemudian adalah, kenapa mesti PKS, dan bukan yang lainnya ?. Dalam hemat saya, Kae Ahmad Adil sadar dan dengan penuh keyakinan yang kuat, bahwa PKS adalah satu-satunya partai Islam yang menjadi tumpuan harapan ummat. Dan ini mesti harus dijawab dengan kerja-kerja nyata oleh kader-kader PKS Manggarai Barat.
PKS Manggarai Barat harus mampu menghantarkan tiga kader terbaiknya untuk duduk di kursi legislative pada pemilu 2014 mendatang. Ia merupakan amanat Muswil ke-2 PKS NTT. Cita-cita politik ini harus di jawab dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja tuntas oleh kader-kader PKS Manggarai Barat. Menanggapi tulisan diatas Kae Ahmad Adil dalam commentya mengtakan untuk merealisasikan cita-cita politik itu “PKS Manggarai Barat harus mampu menterjemahkan visi misi partai dengan pendekatan budaya, tentu dengan tidak menghilangkan substansi dari visi misi itu“. Setiap daerah pasti memiliki adat dan budaya yang berbeda-beda. Manggarai Barat pun demikian, masyarakatnya tentu memiliki takaran-takaran nilai, etika, estitika yang mereka anut dan mereka yakini kebenaranya. Dan PKS semestinya menghormati itu, dan jadikan ia sebagai khasanah pengetahuan untuk kemudian dipelajari dengan seksama, sehingga PKS mampu berbaur dan masuk serta menyelam ke dalam lubuk hati masyarakat. Mereka mempunyai tata karma, dan etika pergaulan sosial yang memang berbeda dengan daerah-daerah lain. Pelanggaran terhadap tata krama dan etika pergaulan social, akan berdampak pada pengisolasian sosial dan ini akan berdampak pada sulitnya PKS mengakses mereka lebih dalam.
Dalam pandangan saya, belum ada kader PKS Manggarai Barat yang benar-benar memahami budaya Manggarai Barat secara mendalam, kader-kader PKS Manggarai Barat lebih banyak menghabiskan waktunya di negeri perantuan untuk mencari ilmu. Dan oleh karennya, waktu untuk mempelajari adat dan budaya daerah nyaris tiada. Tapi, tidak kemudian kita apatis untuk belajar serta mempelajari adat dan budaya daerah. Budaya Pa’u Tuak atau Pa’u Manuk, acapkali kita jumpai di daerah daratan pedalaman, dan ini setidaknya membutuhkan keahlian khusus untuk menjawab Jaong Adat tersebut. Kondisi ini mengingatkan saya pribadi, ketika Tu’a Golo Datak Desa Golo Ronggot, menyerahkan sebidang tanah waqaf untuk pembangunan masjid di daearah itu, penerimaan saya dan teman-teman dilakukan secara adapt, dengan Pa’u Ca Botol Tuak Agu Ca Manuk Bakok. Karena rata-rata yang datang adalah anak-anak muda yang belum memahami betul adat dan budaya, maka kami hanya bisa menjawab Jaong Adat itu dengan senyum simpul khas anak muda dan menyerahkan uang seadanya sebagai imbalan atas Pa’u Ca Botol Tuak Agu Ca Manuk Bakok.
Pada saat yang sama Kae Ahmad Adil juga berkomentar “Untuk mencapai cita-cita politiknya, PKS Manggarai Barat juga harus melakukan Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Treatment). Analisis SWOT dipandang perlu dalam sebuah organisasi, hal ini di maksudkan dalam kerangka untuk memetakan, merumuskan, mengolah, menganalisis dan mengekskusi target-target politik yang ingin diraih. Analisasi SWOT akan menjadi penting, karena ia adalah pijakan dan refrensi ilmiah dalam mengoperasionalkan kerja-kerja partai. Dengan melakukan analisis SWOT PKS Manggarai Barat, akan dapat mengetahui kekuatan-kekuatan mereka, sehingga dengan itu, mereka dapat mempertahankan kekuatan-kekuatan yang ada dan tetap berupaya agar kekuatan-kekuatan itu dapat dimaksimalkan di masa-masa mendatang. Tidak hanya itu, Analisis SWOT, akan mengetahui kelemehan-kelemahan mereka, sehingga dengan itu, mereka dapat melakukan langkah-langkah prefentif, agar kelemahan-kelemahan itu bisa di antispatif sedini mungkin. Kemudian dengan analisis SWOT juga, akan dapat mengetahui peluang-peluang kemenangan yang mesti mereka rebut. Dan dengan analisis SWOT PKS Manggarai Barat, akan dapat mengetahui ancaman-ancaman yang dapat menghalau cita-cita politik mereka, untuk mendapatkan tiga kursi pada pemilu 2014 mendatang.
* Ahmad Adil adalah Magister Ilmu Komputer Putra Lembor, Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Informatika -STMIK Bumigora Mataram NTB
[Oleh : Sumardi, S.Pd, Ketua Bidang Pembinaan Kader DPD PKS Manggarai Barat]
Nampaknya menarik untuk merespon masukan-masukan dan rekomendasi-rekomendasi Kae Ahmad Adil atas tulisan saya di akun facebook tentang “AMBISI POLITIK PKS Manggarai Barat ”. Satu hal yang mesti kita apresiasi adalah bahwa, Kae Ahmad Adil merasa PKS adalah bagian yang terintegral dari dirinya, karenanya ia memberikan rekomendasi-rekomendasi yang ilmiah untuk kemajuan PKS Manggarai Barat, dan ini sebetulnya bukti tanggung jawab moralnya atas realitas PKS Manggarai Barat dan kondisi umat Islam di Manggarai Barat saat ini. Sebagai putra asli Manggarai Barat, yang berada diperantuan Kae Ahmad Adil terus memantau perkembangan PKS Manggarai Barat. Pertanyaannya kemudian adalah, kenapa mesti PKS, dan bukan yang lainnya ?. Dalam hemat saya, Kae Ahmad Adil sadar dan dengan penuh keyakinan yang kuat, bahwa PKS adalah satu-satunya partai Islam yang menjadi tumpuan harapan ummat. Dan ini mesti harus dijawab dengan kerja-kerja nyata oleh kader-kader PKS Manggarai Barat.
PKS Manggarai Barat harus mampu menghantarkan tiga kader terbaiknya untuk duduk di kursi legislative pada pemilu 2014 mendatang. Ia merupakan amanat Muswil ke-2 PKS NTT. Cita-cita politik ini harus di jawab dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja tuntas oleh kader-kader PKS Manggarai Barat. Menanggapi tulisan diatas Kae Ahmad Adil dalam commentya mengtakan untuk merealisasikan cita-cita politik itu “PKS Manggarai Barat harus mampu menterjemahkan visi misi partai dengan pendekatan budaya, tentu dengan tidak menghilangkan substansi dari visi misi itu“. Setiap daerah pasti memiliki adat dan budaya yang berbeda-beda. Manggarai Barat pun demikian, masyarakatnya tentu memiliki takaran-takaran nilai, etika, estitika yang mereka anut dan mereka yakini kebenaranya. Dan PKS semestinya menghormati itu, dan jadikan ia sebagai khasanah pengetahuan untuk kemudian dipelajari dengan seksama, sehingga PKS mampu berbaur dan masuk serta menyelam ke dalam lubuk hati masyarakat. Mereka mempunyai tata karma, dan etika pergaulan sosial yang memang berbeda dengan daerah-daerah lain. Pelanggaran terhadap tata krama dan etika pergaulan social, akan berdampak pada pengisolasian sosial dan ini akan berdampak pada sulitnya PKS mengakses mereka lebih dalam.
Dalam pandangan saya, belum ada kader PKS Manggarai Barat yang benar-benar memahami budaya Manggarai Barat secara mendalam, kader-kader PKS Manggarai Barat lebih banyak menghabiskan waktunya di negeri perantuan untuk mencari ilmu. Dan oleh karennya, waktu untuk mempelajari adat dan budaya daerah nyaris tiada. Tapi, tidak kemudian kita apatis untuk belajar serta mempelajari adat dan budaya daerah. Budaya Pa’u Tuak atau Pa’u Manuk, acapkali kita jumpai di daerah daratan pedalaman, dan ini setidaknya membutuhkan keahlian khusus untuk menjawab Jaong Adat tersebut. Kondisi ini mengingatkan saya pribadi, ketika Tu’a Golo Datak Desa Golo Ronggot, menyerahkan sebidang tanah waqaf untuk pembangunan masjid di daearah itu, penerimaan saya dan teman-teman dilakukan secara adapt, dengan Pa’u Ca Botol Tuak Agu Ca Manuk Bakok. Karena rata-rata yang datang adalah anak-anak muda yang belum memahami betul adat dan budaya, maka kami hanya bisa menjawab Jaong Adat itu dengan senyum simpul khas anak muda dan menyerahkan uang seadanya sebagai imbalan atas Pa’u Ca Botol Tuak Agu Ca Manuk Bakok.
Pada saat yang sama Kae Ahmad Adil juga berkomentar “Untuk mencapai cita-cita politiknya, PKS Manggarai Barat juga harus melakukan Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Treatment). Analisis SWOT dipandang perlu dalam sebuah organisasi, hal ini di maksudkan dalam kerangka untuk memetakan, merumuskan, mengolah, menganalisis dan mengekskusi target-target politik yang ingin diraih. Analisasi SWOT akan menjadi penting, karena ia adalah pijakan dan refrensi ilmiah dalam mengoperasionalkan kerja-kerja partai. Dengan melakukan analisis SWOT PKS Manggarai Barat, akan dapat mengetahui kekuatan-kekuatan mereka, sehingga dengan itu, mereka dapat mempertahankan kekuatan-kekuatan yang ada dan tetap berupaya agar kekuatan-kekuatan itu dapat dimaksimalkan di masa-masa mendatang. Tidak hanya itu, Analisis SWOT, akan mengetahui kelemehan-kelemahan mereka, sehingga dengan itu, mereka dapat melakukan langkah-langkah prefentif, agar kelemahan-kelemahan itu bisa di antispatif sedini mungkin. Kemudian dengan analisis SWOT juga, akan dapat mengetahui peluang-peluang kemenangan yang mesti mereka rebut. Dan dengan analisis SWOT PKS Manggarai Barat, akan dapat mengetahui ancaman-ancaman yang dapat menghalau cita-cita politik mereka, untuk mendapatkan tiga kursi pada pemilu 2014 mendatang.
* Ahmad Adil adalah Magister Ilmu Komputer Putra Lembor, Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Informatika -STMIK Bumigora Mataram NTB
[Oleh : Sumardi, S.Pd, Ketua Bidang Pembinaan Kader DPD PKS Manggarai Barat]
Langganan:
Postingan (Atom)