Selasa, 14 Desember 2010

PKS Bukan Sekedar Partai Politik

Wawancara dengan Syakar A. Jangku, M.Si [Anggota DPRD PKS MABAR]
Menjelang MUSDA II PKS Manggarai Barat



Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bukan hanya sekedar Partai Poltik an sich, seperti partai-partai politik pada umumnya. Tapi ia juga adalah partai Dakwah, yang mengajak masyarakat untuk terus melakukan kebaikan serta mencegah kemungkaran dan praktek-praktek KKN yang dapat merusak tatanan kehidupan bermasyarakat. Dan bagi PKS, politik-kekuasaan bukan merupakan tujuan akhir dari perjuangannya. Tapi politik-kekuasaan dalam persepektif PKS, hanya sarana perjuangan dalam kerangka mewujudkan masyarakat yang madani, adil dan sejahtera. Dan kader PKS harus benar-benar memahami ini. Demikian di ungkapkan Syakar A. Jangku, M.Si, Anggota DPRD PKS Manggarai Barat.

Masyarakat Madani yang di dambakan PKS, dalam pandangan Sykara A. Jangku, M.Si adalah masyarakat yang berperadaban tinggi dan maju, yang berbasiskan pada nilai-nilai, norma, hukum dan moral yang di topang oleh semangat keimanan, menghormati pluralitas, terbuka dan demokratis dengan mengedapankan asas keadilan.

Untuk memerangi keterbelakangan, kemisikinan dan praktek-praktek KKN, harus ada langkah-langkah strategis dan kemauan politik dari politisi PKS. Dan pada saat yang sama, PKS menyadari bahwa membangun Manggarai Barat yang multi etnik, agama ras dan budaya, tidak bisa di lakukan oleh sekelompok golongan tertentu saja. Dan oleh karenanya, membangun diskusi dan komunikasi dengan para politisi-politisi lain adalah sebuah keharusan yang harus di lakoni para politis PKS dalam upaya memerangi keterbelakangan, kemiskinan dan praktek-prakte KKN.

Lebih jauh Syakar A. Jangku, M.Si, mengatakan, PKS Manggarai Barat kedepannya harus terus melakukan komunikasi dengan tokoh-tokoh, simpul-simpul kekuatan umat, ormas-ormas Islam. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menyatukan potensi umat dan cara pandang umat dalam melihat realitas umat saat ini. PKS Manggarai Barat harus mampu menjadi lokomotif persatuan umat. PKS harus mampu menjadi problem solver ummat dan masyarakat pada umumnya, kehadirannya harus mampu membawa keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat.

Kepemimpinan PKS yang di harapkan Syakar A. Jangku, M.Si kedepannya, haruslah yang memiliki cara pandang yang komperhensif dalam menata organisasi secara profesional. Konsolidasi personal dan struktural harus menjadi agenda politik Pemimpin PKS kedepannya. Di samping itu Syakar A. Jangku, M.Si juga berharap, pemimpin PKS juga harus memiliki inovasi berpikir, kreatif dalam mengkreasi program serta cepat dalam menanggapi persoalan umat

Selasa, 23 November 2010

Ketika Penyakit Superioritas Melanda Aktivis Dakwah

Nampaknya, sudah terlampau jauh kita melangkah dalam dakwah. Dalam rentangan waktu itu pula, ada banyak dinamika yang kita lalui dan kita lewati. Dinamika itu, semestinya semakin mendewasakan kita dalam menghadapi persoalan dan tantangan dakwah. Namun dalam kenyataannya, justru kita terus menggerutu dan masih jalan ditempat dalam menyikapi dinamika itu. Belum dewasa dalam menghadapi persoalan dan tantangan dakwah, itu mungkin menjadi tantangan kita. Menjadi orang tua itu pasti, namun menjadi dewasa itu mungkin pilihan.

Superioritas, memandang diri lebih dari yang lainnya, juga diantara penyakit-penyakit dakwah yang dalam hemat saya yang tengah kita hadapi saat ini. Superioritas intelektual, menjadikan pelakunya merasa paling bisa, paling hebat, paling pandai. Sehingga, yang ada dalam benaknya adalah, kalau bukan saya pekerjaan itu tidak tuntas. Superioritas usia tarbawiyah, penyakit ini menghantarkan pelakunya pada sikap acuh tak acuh dan apatis dengan yang lainnya. Sikap ini, biasanya terekespresi dalam mengemukakan pendapat dalam majelis syuro, seolah memberikan instruksi yang mesti di amini oleh orang-orang disekitarnya.

Superioritas ruhiyah, penyakit ini akan dapat membuat pelakunya merasa amal ibadahnya lebih baik dari yang lainnya, dan ini dapat terlihat dari ekspresi dirinya ketika menyampaikan tausiyah-tausiyah ruhaniyah. Muatan tausiyahnya seolah menggurui dengan yang lainnya. Sementara pada saat yang sama kita lupa bahwa, David Beckham kapten Timnas andalan Inggris menjadi pemain terbaik dunia, karena ia di topang oleh tim kesebelasan yang handal, solid dan kuat. Saya, dan juga mungkin kita semua berharap bahwa, sekiranya catatan-catatan kecil ini, akan menjadi bahan refleksi dan evaluasi diri, refleksi dan evaluasi jama’ah dakwah. Sehingga kita mampu, dan dapat menatap dakwah dengan langkah yang sedikit agak mantap dari sebelumnya. Wallahu’alam
[Oleh : Sumardi, S.Pd, Ketua Bidang Dakwah dan Kaderisasi DPD PKS Manggarai Barat]


Menterjemahkan Visi Misi PKS dengan Pendekatan Budaya

Tanggapan atas Comment Kae Ahmad Adil* atas tulisan saya "AMBISI POLITIK PKS MABAR)

Nampaknya menarik untuk merespon masukan-masukan dan rekomendasi-rekomendasi Kae Ahmad Adil atas tulisan saya di akun facebook tentang “AMBISI POLITIK PKS Manggarai Barat ”. Satu hal yang mesti kita apresiasi adalah bahwa, Kae Ahmad Adil merasa PKS adalah bagian yang terintegral dari dirinya, karenanya ia memberikan rekomendasi-rekomendasi yang ilmiah untuk kemajuan PKS Manggarai Barat, dan ini sebetulnya bukti tanggung jawab moralnya atas realitas PKS Manggarai Barat dan kondisi umat Islam di Manggarai Barat saat ini. Sebagai putra asli Manggarai Barat, yang berada diperantuan Kae Ahmad Adil terus memantau perkembangan PKS Manggarai Barat. Pertanyaannya kemudian adalah, kenapa mesti PKS, dan bukan yang lainnya ?. Dalam hemat saya, Kae Ahmad Adil sadar dan dengan penuh keyakinan yang kuat, bahwa PKS adalah satu-satunya partai Islam yang menjadi tumpuan harapan ummat. Dan ini mesti harus dijawab dengan kerja-kerja nyata oleh kader-kader PKS Manggarai Barat.

PKS Manggarai Barat harus mampu menghantarkan tiga kader terbaiknya untuk duduk di kursi legislative pada pemilu 2014 mendatang. Ia merupakan amanat Muswil ke-2 PKS NTT. Cita-cita politik ini harus di jawab dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja tuntas oleh kader-kader PKS Manggarai Barat. Menanggapi tulisan diatas Kae Ahmad Adil dalam commentya mengtakan untuk merealisasikan cita-cita politik itu “PKS Manggarai Barat harus mampu menterjemahkan visi misi partai dengan pendekatan budaya, tentu dengan tidak menghilangkan substansi dari visi misi itu“. Setiap daerah pasti memiliki adat dan budaya yang berbeda-beda. Manggarai Barat pun demikian, masyarakatnya tentu memiliki takaran-takaran nilai, etika, estitika yang mereka anut dan mereka yakini kebenaranya. Dan PKS semestinya menghormati itu, dan jadikan ia sebagai khasanah pengetahuan untuk kemudian dipelajari dengan seksama, sehingga PKS mampu berbaur dan masuk serta menyelam ke dalam lubuk hati masyarakat. Mereka mempunyai tata karma, dan etika pergaulan sosial yang memang berbeda dengan daerah-daerah lain. Pelanggaran terhadap tata krama dan etika pergaulan social, akan berdampak pada pengisolasian sosial dan ini akan berdampak pada sulitnya PKS mengakses mereka lebih dalam.

Dalam pandangan saya, belum ada kader PKS Manggarai Barat yang benar-benar memahami budaya Manggarai Barat secara mendalam, kader-kader PKS Manggarai Barat lebih banyak menghabiskan waktunya di negeri perantuan untuk mencari ilmu. Dan oleh karennya, waktu untuk mempelajari adat dan budaya daerah nyaris tiada. Tapi, tidak kemudian kita apatis untuk belajar serta mempelajari adat dan budaya daerah. Budaya Pa’u Tuak atau Pa’u Manuk, acapkali kita jumpai di daerah daratan pedalaman, dan ini setidaknya membutuhkan keahlian khusus untuk menjawab Jaong Adat tersebut. Kondisi ini mengingatkan saya pribadi, ketika Tu’a Golo Datak Desa Golo Ronggot, menyerahkan sebidang tanah waqaf untuk pembangunan masjid di daearah itu, penerimaan saya dan teman-teman dilakukan secara adapt, dengan Pa’u Ca Botol Tuak Agu Ca Manuk Bakok. Karena rata-rata yang datang adalah anak-anak muda yang belum memahami betul adat dan budaya, maka kami hanya bisa menjawab Jaong Adat itu dengan senyum simpul khas anak muda dan menyerahkan uang seadanya sebagai imbalan atas Pa’u Ca Botol Tuak Agu Ca Manuk Bakok.

Pada saat yang sama Kae Ahmad Adil juga berkomentar “Untuk mencapai cita-cita politiknya, PKS Manggarai Barat juga harus melakukan Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Treatment). Analisis SWOT dipandang perlu dalam sebuah organisasi, hal ini di maksudkan dalam kerangka untuk memetakan, merumuskan, mengolah, menganalisis dan mengekskusi target-target politik yang ingin diraih. Analisasi SWOT akan menjadi penting, karena ia adalah pijakan dan refrensi ilmiah dalam mengoperasionalkan kerja-kerja partai. Dengan melakukan analisis SWOT PKS Manggarai Barat, akan dapat mengetahui kekuatan-kekuatan mereka, sehingga dengan itu, mereka dapat mempertahankan kekuatan-kekuatan yang ada dan tetap berupaya agar kekuatan-kekuatan itu dapat dimaksimalkan di masa-masa mendatang. Tidak hanya itu, Analisis SWOT, akan mengetahui kelemehan-kelemahan mereka, sehingga dengan itu, mereka dapat melakukan langkah-langkah prefentif, agar kelemahan-kelemahan itu bisa di antispatif sedini mungkin. Kemudian dengan analisis SWOT juga, akan dapat mengetahui peluang-peluang kemenangan yang mesti mereka rebut. Dan dengan analisis SWOT PKS Manggarai Barat, akan dapat mengetahui ancaman-ancaman yang dapat menghalau cita-cita politik mereka, untuk mendapatkan tiga kursi pada pemilu 2014 mendatang.

* Ahmad Adil adalah Magister Ilmu Komputer Putra Lembor, Dosen Sekolah Tinggi Manajemen Informatika -STMIK Bumigora Mataram NTB

[Oleh : Sumardi, S.Pd, Ketua Bidang Pembinaan Kader DPD PKS Manggarai Barat]


Kamis, 28 Oktober 2010

PKS MABAR : Bergulat Melawan Tantangan

“Bersama PKS Bekerja membangun NTT”. Kalimat inilah yang menyapa saya, dan teman-teman PKS dari berbagai daerah, ketika memasuki Aula Hotel Kristal di Kota Kupang beberapa waktu lalu, saat mengikuti acara Muswil ke-2 PKS NTT. Kalimat itu memang singkat, padat, namun sarat dengan tantangan dan tentu penuh makna. Menurut saya kader PKS NTT, khususnya Manggarai Barat, tidak hanya di tuntut untuk bekerja keras, tetapi mereka juga dituntut kerja cerdas, dan kerja tuntas. Dari semua kerja-kerja itu, satu lagi yang dibutuhkan oleh kader PKS, yaitu ikhlas dalam berjuang dengan semangat pengorbanan tinggi. Akumulasi dari kerja-kerja itulah, maka cita-cita politik PKS Manggarai Barat lima tahun mendatang akan lebih dapat terwujud.

Tantangan memang selalu ada, karena tantangan adalah sunatullah perjuangan. Sehingga benar apa yang di katakan oleh Mohammad Natsir “lebih baik berhenti berjuang, kalau tidak ada aral rintang menghadang. Jangan-jangan kita berjuang bukan karena mengharapkan ridho Allah, tapi berjuang mengharapkan pujian semu manusia”. Mohammad Natsir benar, tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan, tidak ada pengorbanan tanpa kerja keras, kerja cerdas dan kerja tuntas, serta di landasi dengan niat yang ikhlas, tentu mengharpakan ridho Allah.
PKS Manggarai Barat harus bekerja mengerahkan semua potensi yang dimiliki untuk melawan tantangan. Tantangannya memang amat berat, tantangan itu datang dari dua arah yang berbeda. Yang pertama mungkin datang dari diri para kadernya (internal), dan yang kedua tantangan itu datang dari luar para kadernya (eksternal). Tantangan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, atau bahkan mungkin melarikan diri dari tantangan, akan tetapi tantangan adalah sesuatu yang harus di hadapi. Itulah logika tantangan.

Ekskulsivisme, masih menutup diri dari pergaulan dan pergualatan sosial, mungkin diantara tantangan yang datang dari internal kader PKS sendiri. Dalam pandangan banyak orang, Kader PKS masih berkutat membentuk keshalihan pribadi, mereka belum melampau jauh dalam upaya membentuk keshalihan sosial. Bukankah bobot dakwahnya semakin tinggi, jika kita mampu membentuk sebuah komunitas, yang tidak hanya shaleh secara individu, tetapi juga shaleh secara sosial. Singkatnya, Pergaulan mereka masih cendrung sesama kader-kadernya.

Tantangan itu justru lebih terbuka dan bersifat massif, ketika PKS berhadapan langsung dengan dunia luar. sebuah dunia yang penuh intrik dan penuh dinamika. Di sisnilah daya imunitas kader PKS akan teruji. Akankah mereka mampu melawan gelombang tantangan itu, ataukah justru mereka terhempas gelombang tantangan yang datang setiap saat, tanpa mengenal waktu dan tempat. Kader PKS harus mampu bergulat dengan pemikiran-pemikiran para kompetitor-kompetitornya. Mereka harus mampu menyelaraskan pengetahuan yang didapat dalam komunitasnya dengan dunia luar. Dengan seperti itu kader PKS akan dapat mensejajarkan diri dengan para kompetitor-kompetitornya. Begitulah semestinya kader PKS bekerja. Bekerja melawan tantangan yang datang dari internal kader PKS sendiri, dan juga tantangan yang datang dari ekstrenal PKS.
Oleh : Sumardi [Ketua Bidang Pembinaan Kader DPD PKS MABAR]

Ambisi Politik PKS MABAR

Manggarai Barat harus mampu menghantarkan tiga kader terbaiknya untuk duduk di kursi DPRD pada pemilu 2014 mendatang. Ia merupakan amanat Muswil ke-2 PKS, yang di selenggarakan di Kupang beberapa waktu lalu. Cita-cita itu mungkin sedikit ambisius, atau mungkin saja ia merupakan cita-cita yang teramat realistis. Terlalu ambisius karena memang mesin partai selama ini, tidak dapat bekerja maksimal, ia hanya bekerja menjelang suksesi pemilu dan pemilukada. Pemberdayaan struktrur dan penguatan basis massa masih jauh dari ideal. Dan pemilu legislatif kemarin bisa di jadikan cermin berpikir kita bahwa, perolehan dua kursi Aleg PKS nampaknya seperti telur di ujung tanduk, . Kalau saja kita lengah dan sedikit tidak angkat bicara, sudah bisa di tebak kursi itu akan hengkang dari dekapan kita. Sebuah perjuangan yang teramat luar biasa dan tentu melelahkan.

Cita-cita itu juga bisa di katakan realistis bahkan sangat teramat realistis, karena memang jumlah wajib pilih muslim di Manggarai Barat hampir 22.000, dan idealnya memang dari jumlah wajib pilih itu, umat Islam mampu menghantarkan 6 atau 7 kader terbaiknya untuk duduk di kursi DPRD. Persoalannya adalah berapa jatah PKS dari jumlah kursi itu ?. Tidak mudah memang merekapitulasi angka-angka kemenenagan, ada banyak variabel yang melingkupi angka-angka kemenangan itu.

Kini, bola kemenangan itu sudah ada di depan mata kita, bola kemenangan itu sudah hampir dalam dekapan kita, dan bola kemenangan itu akan terus menggelending, yang kalau saja kita masih pesta pora dengan angka kemenangan perolehan kursi pada pemilu kemarin, bisa saja bola kemenangan itu menjauh dan lenyap dalam pandangan kita. Tapi ceritanya mungkin sedikit berbeda, jika kita mampu menangkap bola itu, lalu kemudian kita menggiringnya dengan teknik yang agak berbeda dengan para kompetitor-kompetitor kita, maka angka 3 kursi itu bagi kita nampaknya angka minimum dan tentu kita bisa dapat lebih dari itu.

Maka yang mesti kita lakukan untuk merealisasikan cita-cita kemenangan itu adalah, segera melakukan konsolidasi internal , merapatkan shaf, merapikan barisan. Kita harus gerakkan seluruh mesin struktur sebagai ujung tombak perjuangan, maksimalkan seluruh potensi struktural untuk sebuah cita-cita besar akan kemenangan. Dan dari semua itu, kita harus mampu menciptkan kesan di benak publik. Kesan yang hendak kita ciptakan, haruslah ia terbentuk menjadi pola pikir masyarakat. Dan lebih jauh dari itu, kesan yang hendak kita ciptakan haruslah menjadi buah bibir masyarakat. Sehingga kesan itu akan mengkristal dan mewujud menjadi sikap masyarakat, dan bahkan lebih dari itu, kesan yang kita ciptakan akan menjadi pilihan politik masyarakat pada pemilu 2014 mendatang.
Oleh : Sumardi [Ketua Bidang Pembinaan Kader DPD PKS MABAR]

Menggugat Peran Intelektual Mahasiswa Islam MABAR

Peristiwa itu tidak pernah terpikirkan oleh BJ Habibe, bahkan di luar dugaan bangsa kita. Bangsa Indonesia. Bagaimana tidak, hanya dalam hitungan detik di balik bilik suara, Timor-Timur lepas dari bingkai NKRI. Sungguh, peristiwa yang memalukan bangsa di mata dunia. Presiden RI yang ke III itu, terlalu PD untuk menyetujui usulan PBB untuk melakukan jajak pendapat. Dan pada saat yang sama, ke-PD-an Habibi, dimaklumi oleh bangsa, untuk menerima tawaran yang fantastis itu, karena memang hampir semua laporan intelejen TNI dan POLRI, jajak pendapat tidak akan mempengaruhi masyarakat Timor-Timur untuk melepaskan diri, dan pergi dari pangkuan ibu pertiwi. Ia mungkin analisis intelelejen yang teramat konyol, yang pernah di negeri ini.

BJ Habibi, TNI dan PLORI, atau bahkan bangsa ini tidak pernah tahu, kalo mahasiswa asal Timor-Timur lah aktor intekeltual di balik semua itu. Menjelang detik-detik terakhir jajak pendapat seluruh mahasiwa Timor-Timur turun door to door mempengaruhi masyarakat Timor-Timur untuk memilih merdeka dan mendirikan negara baru. Mahasiswa Timor-Timur sudah menunaikan tugas sejarahnya, dan tugas itu menempatkan mereka pada panggung kemerdekaan sejarah Timor-Timur. Lalu, bagaimana dengan mahasiwa Islam Manggarai Barat, yang kini tengah bergulat dengan idealisme intelektualnya di negeri rantauan? Akankah mereka mampu menjadi actor sejarah proyek persatuan umat Islam di Manggarai Barat ? ataukah mereka hanya menjadi pembaca sejarah yang cerdas, atau penonoton setia proyek persatuan umat, yang kini tengah di gagas oleh mereka yang peduli akan persoalan tersebut.

Memberikan pendidikan politik akan pentingnya persatuan umat terhadap keluarga terdekat, orang-orang di kampung halaman, atau bahkan orang-orang yang tinggal di desa-desa, merupakan salah satu peran sejarah yang mesti di lakoni mahasiswa Islam Manggarai Barat. Mereka harus mampu meyakinkan keluraga, orang-orang di kampungya bahwa, umat Islam adalah bersaudara. Dan persaudaraan yang di bangun dalam Islam, berdasarkan persamaan Aqidah, bukan berdasarkan ras, keturunan atau golongan. Saya tidak bisa membayangkan, kalau saja mahasiswa Islam Manggarai Barat turun dari tahta idealita intelektualknya dan menyapa masyararakat dengan realitas intelektualnya menjelang suksesi pemilihan pemimpin di daerah ini, saya mempunyai keyakinan yang cukup kuat bahwa, persatuan umat akan dapat terwujud dan lebih jauh dari itu, kemenangan kepemimpinan umat akan dapat terrealisasi.

Peran-peran realitas intelektual itu tidak akan terwujud, kalau saja mahasiswa Islam Manggarai Barat, tidak pernah aktif dan terlibat langsung dalam organisasi-organisasi di kampus. Harapan-harapan itu akan pupus dan kandas di tengah jalan, manakala mahasiswa-mahasiswa Islam Manggarai Barat hanya berkutat antara kos, kampus, kantin, dan kakus atau bahkan mereka suka hura-hura, mabuk-mabukan serta tidak memanfaatkan waktu seefektif mungkin untuk kegiatan-kegiatan yang akan mempertajam pisau analisis intelektualnya. Mereka tidak pernah terlibat dalam diskusi-diskusi ilmiah sebagai wadah tempat bersemainya idelaita intelektual seorang aktivis. Dan merekalah sesungguhnya mahasiswa-mahasiswa yang egois dan apatis, yang kehadirannya kelak sebagai biang keresahan dan kegaduhan di tengah masyarakat. Mereka tidak menjadi solver problem, tapi justru merekalah maker problem. Wahai mahasiswa Islam Manggarai Barat, kaliankah yang di rindukan umat sebagai actor sejarah proyek persatuan umat Islam di Manggarai Barat, ? ataukah kalian justru mengambil peran sebagai pecundang dan pengkhianat persatuan ummat. Salam Mahasiswa
Oleh : Sumardi [Ketua Bidang Pembinaan Kader DPD PKD MABAR]

Dicari Pemimpin Yang Berempati

Kecerdasan intelektual, ternyata bukan satu-satuya modal seorang pemimpin. Masih banyak kecerdasan-kecerdasan lain, yang mesti dan bahkan mungkin harus di miliki seorang pemimpin. Saya dan mungkin kita semua, melihat bahwa ada begitu banyak pemimpin-pemimpin di sekitar kita, atau bahkan yang dekat dengan kita sekalipun, tidak memiliki kecerdasan-kecerdasan lain tersebut.

Dalam konteks kepemimpinan Umat Manggarai Barat. Pemimpin yang di harapkan tentu tidak hanya kecerdasan intelektual, berpaiawai dalam berretorika. Tapi, Seorang pemimpin ummat juga harus memiliki kecerdasan spiritual, yang dengannya ia bisa mengendalikan diri, dari hal-hal yang memabwanya kepada Korupsi Kolusi dan Nepotisme. Dengan kecerdasan itu pula, ia tidak akan hamba kepada harta, bertekuk lutut pada harta. Tapi ia jadikan harta sebagai sarana untuk berderma, sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Atau lebih tepatnya, ia jadikan harta sebagai sarana untuk habluminallah wa habluminannas. Bukankah Rasulullah pernah mengatakan, sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi yang lainnya. khairunnas amfa’uhim linnas.

Tidak hanya sebatas pada kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual, lalu kemudian kita nobatkan seseorang menjadi pemimpin umat. Masih ada kecerdasan manajerial. Yang dengannya ia bisa menginventarisir persoalan umat, untuk kemudian di buatkan blue print proyek pembangunan umat. Dengan kecerdasan manajerial itu pula, ia mampu membuat analisis SWOT atas berbagi persoalan umat. Dan dengan kecerdasan manajerial itu juga, ia mampu berpikir out of the box. Berpikir di luar kelaziman cara kebanyakan orang berpikir. Sigkatnya, pemimpin umat yang di harapkan Manggarai Barat adalah, mereka yang sedikit tidaknya memahami ilmu manajemen.

Kecerdasan emosional, juga merupakan kecerdsan yang harus di miliki oleh pemimpin Umat Manggarai Barat, yang dengannya ia bisa menata perbedaan menjadi rahmat. Dan dengan kecerdsan itu, ia mampu memahami perbedaan sebagai suatu keniscayaan. Karena memang ia adalah kenyataan sejarah,yang tidak bisa di bantah. Dan dengan kecerdasan emosional itu, ia menjadi perekat dan pemersatu simpul-simpul umat yang mungkin selama ini retak, karena perbedaan pandangan tadi.

Kita mungkin tidak pernah berpikir bahwa, kecerdasan berempati juga modal dasar seorang pemimpin. Mungkin sedikit lebih ekstrim, pemimpin yang tidak memeliki kecerdsan berempati, adalah pemimpin yang mati rasa, yang tidak memiliki nurani kemanusiaan. Dengan memiliki Kecerdasan berempati, seorang pemimpin akan lebih peka dan peduli terhadap persoalan orang-orang di sekitarnya, atau rakyat di pimpinnya. Dengan kecerdasan berempati itulah, ia (sang pemimpin) menjadi pelayan umat, bukan di layani umat. Hanya pemimpin yang memiliki jiwa otoratirian lah yang ingin di layani dan di hormati umat. Dan tentu bukan pemimpin seperti inilah, yang di harapkan Umat Manggarai Barat.

Ada satu lagi modal yang harus di miliki seorang pemimpin, yaitu kecerdasan social. Kecerdasan sosialah yang membuat pemimpin di senangi banyak orang, karena kebaikan yang ia berikan. Senyum tulus, tegur sapa, adalah yang di harapkan masyarakat dari seorang pemimpin. Dengan kecerdsan social seorang pemimpin akan memiliki banyak teman. Pergaulannya lebih dinamis, dan masuk kedalam semua lapisan masyarakat tanpa mengenal suku, agama, ras dan keturunan. Adalah bukan pemimpin yang di harapkan umat, mana kala ia menutup diri dari pergaulan social, tidak pernah terlibat dan melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan social, jarang melakukan silaturahim dengan masyarakat atau mugkin orang-orang di sekitarnya, atau bahkan mungkin juga tetangga terdekatnya sekalipun. Atau bahkan tidak pernah menjadikan kekuasaanya sebagai sarana untuk berbuat dan berkarya untuk ummat. Saya, kamu, atau mungkinkah kita pemimpin yang di cari itu ?. wallahu’alam
Oleh : Sumardi [Ketua Bidang Pembinaan Kader DPD PKS MABAR]