Kalau saja simpul-simpul kekuatan Umat Islam Manggarai Barat, bekerja maksimum untuk sebuah proyek peradaban persatuan umat. Kalau saja simpul-simpul itu, tidak merasa kelmpoknya yang paling hebat. Dan kaalu saja simpul-simpul kekuatan umat itu, bekerja dan berkarya menurut bidang garapannya masing-masing. Yakinlah bahwa, persoalan sebesar apapun yang di hadapi umat Islam Manggarai Barat, akan dapat terselesaikan dengan baik. Tentu dengan kerja keras, kerka cepat dan kerja tuntas.
Kita punya MUI, ia adalah simpul kekuatan umat yang sangat strategis untuk membangun persatuan umat. Jika ia bekerja maksimal,maka ia akan mampu merekatkan keretakan umat yang mungkin saja selama ini terjadi. Kita juga punya LPTQ, ia adalah lembaga yang mewadahi pengembangan tilawatil qur’an. Semua kita tentu berharap bahwa, alqur’an bukan hanya sekedar bacaan untuk kemudian di lombakan. Tapi, ia adalah petunjuk yang dapat mengarahkan umatnya menajadi umat yang hanif, takut akan kebeseran Allah.
Kita juga punya Muhammadiyah, ia adalah simpul kekuatan umat yang kalau saja, ia terus melakukan pembinaan umat melalui lembaga pendidikan yang ia dirikan, bukan tidak mungkin akan lahir para pemikir-pemikir dan intelektual-intelektual Islam Manggarai Barat di masa mendatang. Kita juga punya Nahdlatul Ulama dan Nahdaltul Wathan, mereka adalah simpul kekuatan umat, yang kalau saja majelis-majelis ta’lim yang mereka dirikan terus mengarahkan umat untuk terus bertaqrab kepada Allah. Maka akan lahir umat-umat yang memahami Islam, yang tidak hanya di ucapkan dengan lisan, tapi ia juga di yakini dengan hati, serta mampu meng-operasionalisasi-kan ajaran islam dalam kehidupan nyata.
Di Manggarai Barat juga punya madrasah-madrasah, ia adalah laboratorium pendidikan yang akan melahirkan cendikiwan-cendikiwan dan pemimipin-pemimpin tangguh di masa mendatang. Dan pada saat yang sama, kita juga punya ikatan Imam dan Khatib se- Manggarai Barat, ia adalah simpul-simpul persatuan yang dekat dengan umat, yang kalu saja ia optimal dalam membimbing, membina dan mengarahkan umat kepada persatuan umat maka, akan terjadi evolusi besar-besar cara berpikir umat Manggarai Barat, dari cara berpikir sempit yang mementingkan diri dan golongan, berubah dan mewujud menjadi cara berpikir terbuka, dan siap menerima segala perbedaan pandangan.
Kita juga punya remaja masjid, namun ia nampaknya mati suri, tak beraktifitas, tapi eksistensi kelembagaanya masih ada. Kalau saja remaja masjid, punya segudang aktifitas yang mengarahkan generasi muda kepada hal-hal yang bermanfaat, yakinlah bahwa tidak ada lagi cerita anak-anak remaja Islam di Manggarai Barat, yang suka hura-hura, yang suka mabuk-mabukan, dan kenakalan khas remaja lainnya. Remaja adalah pusaran energi peradaban, yang tidak hanya fisiknya yang kuat, tapi pemikirannya juga melampaui ketegaran jasadnya. Pisau analisis pemikiranya masih jernih, dan masih bebas dari kepentingan.
Sekali lagi, kalau saja simpul-simpul kekuatan umat tersebut di atas, bekerja dan berkarya menurut bidang garapannya masing-masing, dan terhindar dari penyakit (ashabiyah) merasa diri, kelompok dan golongannya yang paling hebat dan berperan. yakinlah bahwa, cita-cita besar umat Islam Manggarai Barat, untuk mewujudkan kepemimpinan ummat di masa mendatang, pasti akan terrealisasi . Dan sebetulnya, ini hanya masalah waktu. Sekali lagi hanya WAKTU.
Kamis, 28 Oktober 2010
Perubahan Memang Bermula dari Perubahan Cara Berpikir
Perubahan memang bermula dari perubahan cara berpikir, cara memandang persoalan dengan tepat, dan tentu objektif. Perubahan cara berpikir, akan berputar kencang mewujud menjadi perubahan perilaku, sikap dan nilai. Cara pandang yang luas, luwes dan dinamis, akan melahirkan sikap dan prilaku yang elegan dan terbuka. Terbuka menerima segala perbedaan. Perbedaan bukan untuk di benturkan, tapi ia adalah dinamika dan warna social pluralistis yang akan menambah wawasan pengetahuan kita. Itulah perubahan, jika ia lahir dari akal-akal cerdas, akan membuahkan karya-karya besar. Pun sebaliknya.
Cara berpikir yang salah, picik, sempit, inclusive dan menutup diri, akan melahirkan sikap egois, merasa diri yang paling benar, merasa golongan atau kelomponya yang palin hebat, serta tidak mampu menata perbedaan menjadi rahmat. Cara pandang seperti ini, tak ubahnya seperti katak dalam tempurung. Sehingga benarlah yang ungkapkan Bung Karno “ Zaman besar telah lahir, tapi ia dihidupi oleh otak-otak kerdil”. Itulah logikan perubahan
Saya terlalu yakin dan percaya bahwa, jika umat Islam Manggarai Barat ingin melakukan akselerasi perubahan, dalam mewujudkan kebersamaan, kesatuan pandangan dalam memandang persolan umat. Maka, cara yang segera di lakukan adalah reformasi cara berpikir dalam memandang persoalan umat.Simpul-Simpul Islam harus bergerak cepat, untuk merangkul para pemikir-pemikir Islam Manggarai Barat, baik yang di perantuan maupun yang ada di daerah, untuk melakukan konsolodasi berpikir dalam kerangka menyatukan persepsi, membuka tabir persoalan umat, dan dengan segera mencari solusi alternative atas berbagai persoalan yang meliliti umat Islam Manggarai Barat.Sudah bukan saatnya lagi berpikir sempit, mementingkan diri, komunitas, golongan atau kelompok.
Sudah bukan waktunya lagi merasa diri, komunitas, golongan atau kelompoknya yang paling hebat dan benar. Sudah bukan zamannya lagi berpikir sempit, karena ia akan melahirkan karya-karya kerdil, yang tak akan pernah di rekam oleh tinta sejarah. Sudah saatnya kita, merapatkan shaf, merapikan barisan, memperkuat tali silaturahim, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah. Ukhuwah yang benar-benar di bangun atas dasar persamaan aqidah dan manhaj.
Cara berpikir yang salah, picik, sempit, inclusive dan menutup diri, akan melahirkan sikap egois, merasa diri yang paling benar, merasa golongan atau kelomponya yang palin hebat, serta tidak mampu menata perbedaan menjadi rahmat. Cara pandang seperti ini, tak ubahnya seperti katak dalam tempurung. Sehingga benarlah yang ungkapkan Bung Karno “ Zaman besar telah lahir, tapi ia dihidupi oleh otak-otak kerdil”. Itulah logikan perubahan
Saya terlalu yakin dan percaya bahwa, jika umat Islam Manggarai Barat ingin melakukan akselerasi perubahan, dalam mewujudkan kebersamaan, kesatuan pandangan dalam memandang persolan umat. Maka, cara yang segera di lakukan adalah reformasi cara berpikir dalam memandang persoalan umat.Simpul-Simpul Islam harus bergerak cepat, untuk merangkul para pemikir-pemikir Islam Manggarai Barat, baik yang di perantuan maupun yang ada di daerah, untuk melakukan konsolodasi berpikir dalam kerangka menyatukan persepsi, membuka tabir persoalan umat, dan dengan segera mencari solusi alternative atas berbagai persoalan yang meliliti umat Islam Manggarai Barat.Sudah bukan saatnya lagi berpikir sempit, mementingkan diri, komunitas, golongan atau kelompok.
Sudah bukan waktunya lagi merasa diri, komunitas, golongan atau kelompoknya yang paling hebat dan benar. Sudah bukan zamannya lagi berpikir sempit, karena ia akan melahirkan karya-karya kerdil, yang tak akan pernah di rekam oleh tinta sejarah. Sudah saatnya kita, merapatkan shaf, merapikan barisan, memperkuat tali silaturahim, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah. Ukhuwah yang benar-benar di bangun atas dasar persamaan aqidah dan manhaj.
Jumat, 24 September 2010
Wacanakan Kemenangan Itu
Kita memang gagal dalam pemilukada kemarin, paket Perpaduan (Anton Bagul dan H. Asis) berada pada urutan ketiga, dari delapan paket yang berkompetesi. Ia adalah paket perpaduan dua komunitas besar di Manggarai Barat, Islam dan Katolik, daerah pesisir kepulauan dan daratan pedalaman. Itulah kompetesi, ada yang keluar sebagai pemenang, dan ada juga yang kalah dalam pertarungan. Justru yang salah adalah ketika kita terus terlarut dalam kesedihan kekalahan. Atau mungkin yang paling parah, di saat kita kalah malah di hujat, di caci dan di maki. Idealnya memang adalah kita harus bangkit dari tidur panjang kekalahan kita. Kita harus bergerak dan berpikir cepat, melebihi usia kita.
Kemenangan nampaknya sudah ada di depan mata, takdir kemenangan itu rasa-rasanya sudah dekat dengan kita. Dan kemenangan itu akan berpihak kepada kita, manakala kita mampu merekayasa kemenangan itu. Merekayasa kemenagan dengan segera melakukan konsolidasi kembali kekuatan kita, merapatkan kembali shaf-shaf kemenangan kita, serta mengerahkan semua segala potensi dan sumber daya kita, hanya untuk satu kata “kemenagan”. Wacanakan kemenangan itu. ikat wacana itu dengan menuliskanya, kuatkan wacana itu mendiskusikanya. Biarkan ia mengalir deras bak gelombang di tengah lautan lepas. Sehingga kelak, waktulah yang akan menjawabnya, dan waktu pulalah yang akan mengabarkan kepada kita bahwa, kemenagan memang jatuh dalam dekapn kita.
Senin, 20 September 2010
Anton Bagul dan H. Asis Peletak Dasat Paket Perpaduan MABAR
Oleh : Sumardi, S.Pd
Ketua Bidang Dakwah dan Kaderisasi
DPD PKS Manggarai Barat
Itu hanya eksperimen politik. Atau mungkin yang sedikit lebih ekstrim, mereka terlalu berani untuk mengusung paket perpaduan. Atau mungkin mereka bicara, bahwa figur Muslim yang di usung, belum merupakan represntatif perwakilan umat Islam. H. Abdul Asis belum di kenal banyak kalangan , atau sumber daya H. Abdul Asis, masih standar di bawah rata-rata. Atau bisa saja mereka mengatakan, Anton Bagul salah memilih orang, atau juga sebaliknya, Anton Bagul lah penyebab kekalahan itu, karena ia adalah tokoh yang banyak cacatnya. Sedertan ungkapan ini menjadi wacana public, ketika Paket DAMAI gagal melaju ke tahta kekuasaan pada pemilukada kemarin.Ketua Bidang Dakwah dan Kaderisasi
DPD PKS Manggarai Barat
Namun, ceritanya mungkin berbeda, ketika paket DAMAI, mendapatkan legitimasi rakyat, untuk duduk di tampuk kekuasaan. Orang-orang mungkin berkata, memang sekaranglah saatnya kita memimpin, sekaranglah saat yang tepat bagi kader Muslim untuk menjadi bagian dari pengambil kebijakan dalam pembangunan Manggarai Barat. Atau sekaranglah saatnya, daerah ini di pimpin oleh dua komunitas besar, Islam dan Katolik, pesisir kepulauan dan daratan pedalaman.
Itulah logika politik kekuasaan, ketika ia menang dalam bertarung, ia di puji dan di hargai. Ia di agung-agungkan dan di hormati. Tapi, ketika ia kalah dalam komptesi, ia di hujat dan di marginalkan. Paket DAMAI memang sudah kalah, tapi satu hal pasti bahwa, secara psikologis, nilai tawar umat islam, sudah mulai di bangun dan di perhitungkan di mata politisi-politisi lain. Politisi-politisi lain akan berpikir panjang dalam kompetesi 2015 mendatang.
Setidaknya Paket DAMAI sudah meletakkan fondasi perpaduan, perpaduan antara dua komunitas besar Islam dan katolik. H. Abdul Asis, telah menancapkan akar bangunan sejarah perpolitikan Islam Manggarai Barat. Ia sudah menunaikan tugas-tugas sejarahnya, dialah peletak dasar paket perpaduan di Manggarai Barat. Dan ia akan tetap terrekam dan di catat sejarah, sebagai orang yang berani tampil sebagai aktor sejarah. Lalu bagaimana dengan kita ?
Minggu, 19 September 2010
Umat Islam MABAR Menanti Janji Gusti Dulla
Gusti Dula sudah di lantik. Ia adalah Bupati yang di kehendaki rakyat Manggarai Barat. Kemenangan yang di dapat, tentu melalui proses yang amat panjang dan tentu melelahkan. Panjang dan melelahkan, karena menguras semua energy berpikir, untuk mensiasati kemenangan. Merekayasa kemenangan itu, juga tidak hanya mengerahkan energy berpikir, tapi ia juga membutuhkan financial yang kaut, sebagai dinamisator untuk memobilisasi dukungan massa. Ya, tepatnya mengerahkan semua petensi dan sumber daya.
Terlepas dari semua itu, takdir kemenangan nampaknya memang ada di tangan Gusti Dula . Gusti telah memulai pekerjaan sejarahnya, ia telah mulai menancapkan kerangka sejarahnya, dan menciptakan peristiwa-peristiwa sejarah kepemimpinanya. Tapi satu hal yang perlu kita ingat bersama, bahwa kemenangan Gusti tidak terlepas dari dukungan tokoh-tokoh Islam, bahkan kalau sedikit kita angkat kepala, umat Islam merupakan penentu kemenangan Gusti. Argumentasi ini rasanya cukup kuat, jika kita melihat basis-basis kemenangan Gusti. Hampir di semua basis-basis muslim, perolehan suara paket Gusti cukup signifikan.
Meski secara politik partai-partai Islam tidak mendukung paket Gusti.Tapi suara umat Islam, juga terbilang luar biasa memilih Gusti. Gusti Dula nampaknya tokoh yang teramat fenomenal. Fenomenal karena memang kepribadiannya sangat integratif. Keterpaduan santun dan rendah hati membuatnya di senangi banyak orang. Di senangi kawan, di segani lawan. Dalam mendukung Gusti, tentu ada komitmen-komitmen yang di bangun antar tokoh-tokoh Islam dengannya. Komitmen-komitmen itu, setidaknya dalam membangun Manggarai Barat lima tahun kedepan, Gusti memperhatikan kepentingan umat Islam, dengan mengedepankan asas keadilan dan pemerataan dalam kebijakan pembangunan. Tidak hanya itu, komitmen-komitmen yang di bangun, setidaknya satu atau dua orang SKPD di pimpin oleh kader Islam.
Saya, dan mungkin kita semua mendegar bahwa, salah satu entry point komitmen itu, adalah Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan di pimpin oleh kader Islam. Dan untuk itu, umat Islam sudah mempersiapkan kadernya yang cukup potensial. Ia adalah kader umat yang terbaik. Latar belakang pengetahuan dan disiplin ilmunya, memperkuat bargainingnya. Keterpaduan pengelaman birokrasi dan emepiris, membuatnya tepat dan layak untuk menduduki jabatan Kadis Perikanan dan Kelautan. Dan memang selayaknya orang Islam, harus di urus oleh orang Islam. Karena yang mengetahui kondisi ril keberadaan umat Islam, hanya sesama Islam. Mengurus Perikanan dan Kelautan, sama halnya dengan mengurus Islam. Karena memang hampir semua nelayan yang ada di Manggarai Barat, adalah orang Islam. Dan kader potensial itu adalah Ir. Abdurahman, M.Si.
Kabinet Gusti memang belum terbentuk, saya dan semua kita tentu berharap bahwa, cabinet yang akan terbentuk nantinya, ada deretan nama-nama kader Islam potensial yang duduk di birokrasi pemerintahan Gusti. Dan satu lagi, nama Abdurrahman adalah salah satu dari deretan nama tersebut, dalam posisinya sebagai kepala Dinas Perikanan dan Kelautan. Sekali lagi, kini Gusti sudah di lantik. Dan kita, menanti janji-janji dan komitmen-komitemennya.
Terlepas dari semua itu, takdir kemenangan nampaknya memang ada di tangan Gusti Dula . Gusti telah memulai pekerjaan sejarahnya, ia telah mulai menancapkan kerangka sejarahnya, dan menciptakan peristiwa-peristiwa sejarah kepemimpinanya. Tapi satu hal yang perlu kita ingat bersama, bahwa kemenangan Gusti tidak terlepas dari dukungan tokoh-tokoh Islam, bahkan kalau sedikit kita angkat kepala, umat Islam merupakan penentu kemenangan Gusti. Argumentasi ini rasanya cukup kuat, jika kita melihat basis-basis kemenangan Gusti. Hampir di semua basis-basis muslim, perolehan suara paket Gusti cukup signifikan.
Meski secara politik partai-partai Islam tidak mendukung paket Gusti.Tapi suara umat Islam, juga terbilang luar biasa memilih Gusti. Gusti Dula nampaknya tokoh yang teramat fenomenal. Fenomenal karena memang kepribadiannya sangat integratif. Keterpaduan santun dan rendah hati membuatnya di senangi banyak orang. Di senangi kawan, di segani lawan. Dalam mendukung Gusti, tentu ada komitmen-komitmen yang di bangun antar tokoh-tokoh Islam dengannya. Komitmen-komitmen itu, setidaknya dalam membangun Manggarai Barat lima tahun kedepan, Gusti memperhatikan kepentingan umat Islam, dengan mengedepankan asas keadilan dan pemerataan dalam kebijakan pembangunan. Tidak hanya itu, komitmen-komitmen yang di bangun, setidaknya satu atau dua orang SKPD di pimpin oleh kader Islam.
Saya, dan mungkin kita semua mendegar bahwa, salah satu entry point komitmen itu, adalah Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan di pimpin oleh kader Islam. Dan untuk itu, umat Islam sudah mempersiapkan kadernya yang cukup potensial. Ia adalah kader umat yang terbaik. Latar belakang pengetahuan dan disiplin ilmunya, memperkuat bargainingnya. Keterpaduan pengelaman birokrasi dan emepiris, membuatnya tepat dan layak untuk menduduki jabatan Kadis Perikanan dan Kelautan. Dan memang selayaknya orang Islam, harus di urus oleh orang Islam. Karena yang mengetahui kondisi ril keberadaan umat Islam, hanya sesama Islam. Mengurus Perikanan dan Kelautan, sama halnya dengan mengurus Islam. Karena memang hampir semua nelayan yang ada di Manggarai Barat, adalah orang Islam. Dan kader potensial itu adalah Ir. Abdurahman, M.Si.
Kabinet Gusti memang belum terbentuk, saya dan semua kita tentu berharap bahwa, cabinet yang akan terbentuk nantinya, ada deretan nama-nama kader Islam potensial yang duduk di birokrasi pemerintahan Gusti. Dan satu lagi, nama Abdurrahman adalah salah satu dari deretan nama tersebut, dalam posisinya sebagai kepala Dinas Perikanan dan Kelautan. Sekali lagi, kini Gusti sudah di lantik. Dan kita, menanti janji-janji dan komitmen-komitemennya.
Jumat, 16 Juli 2010
Islam dan Manggarai Barat
“Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada suatu kaum, maka tidak yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Allah (Q.S. ar-Ra’d : 11)
Kutipan ayat di atas adalah petunjuk wahyu dan merupakan warning dari Allah, yang di tunjukkan kepada umat Manusia, bahwa perubahan-perubahan besar yang sudah, sedang dan tengah kita upayakan tidak akan nampak dan kelihatan, manakala produktfitas kinerja kita, tidak menunjukkan adanya perubahan. Perubahan-perubahan besar yang menjadi cita-cita kita semua akan dapat terwujud manakala kita monorehkan karya-karya besar, kinerja-kinerja besar untuk sebuah perubahan-perubahan besar pula.
Islam dan Manggarai Barat adalah dua kata yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, keduanya merupakan dua sisi mata uang yang memang saling membutuhkan dan saling melengkapi. Islam adalah sistem serta prinsip hidup bagi umat Islam. Islam adalah aqidah dan ibadah, jihad dan politik, system hukum dan perundang-undangan. Sedangkan Manggarai Barat adalah tempat kita berpijak untuk melakukan berbagai aktivitas guna menunjang pengabdian kita kepada sang khaliq. Manggarai Barat adalah ladang amal untuk mengejewantahkan secara operasioanal seluruh ajaran Islam dalam bentuk ibadah. Dan ibadah itu sendiri adalah puncak ketundukan dan kepatuhan kita kepada Allah.
Kini, umat Islam Manggarai Barat dihadapkan banyak persoalan. Dan persoalan ini jika terus dibiarkan, ia akan menjadi kronis, dan kalau sudah mencapai puncaknya, maka cukup sulit dicarikan solusinya. kita akan segera beranjak dari lilitan persoalan itu, manakala kita saling bahu-membahu, kita bergandengan tangan, dengan meneriakan satu kata “persatuan ummat”. Dan persatuan ummat ini akan dapat terrealisasi, jika kita memiliki cara pandang yang sama, cara sikap yang sama dalam memandang berbagai persoalan umat. Kita tidak akan pernah keluar dari kungkungan persoalan, manakala semangat kebersamaan tidak pernah kita pupuk dan ditumbuh-suburkan, serta semangat persaudaraan tidak pernah kita bina.
Jika dalam jiwa dan hati kita, tertanam rasa persaudaraan yang di bangun diatas landansan aqidah yang benar. Jika kita memiliki cara pandang yang sama untuk memecahakan batu besar persoalan yang menimpa umat Islam Manggarai Barat. Dan jika kita sudah keluar dari ego pribadi, serta mencoba keluar, dan lari menuju lapangan dengan memekikkan kata “persatuan umat”. Maka, langkah selanjutnya adalah, kita juga harus menyiapkan sumber daya yang mumpuni. Sebab, kalau semangat kebersamaan saja yang kita bangun, sementara kita tidak memiliki kader potensial yang merupakan representative ke-inetelektualan umat, untuk memperjuangkan aspirasi umat, maka perjuangan kita akan pincang dan sudah barang tentu pengorbanan kita untuk menyatukan cara pandang umat Islam akan sia-sia.
Adanya ketimpangan pembangunan yang terjadi didaerah ini, merupakan isyarat belum adanya keterwakilan umat Islam yang benar-benar representative yang mampu mengawal kebijakan agar berpihak kepada kepentingan umat. Sudah saatnya kita berkaca pada realita, sudah saatnya kita merapatkan shaf merapikan barisan guna merumuskan langkah-langkah strategis, dalam rangka mencari solusi yang konstruktif atas berbagai persoalan yang melilit Umat Islam Manggarai Barat. Dan bukankah Allah telah mengisyaratkan kepada kita bahwa persatuan umat adalah kemestian yang harus terus kita jaga. Dan berpegang teguhlah kamu kepada tali Agama Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai (Q.S. al-Imran : 10)
Oleh : Sumardi, S.pd
Ketua Bidang Dakwah dan Kaderisasi
DPD PKS Manggarai Barat
Kutipan ayat di atas adalah petunjuk wahyu dan merupakan warning dari Allah, yang di tunjukkan kepada umat Manusia, bahwa perubahan-perubahan besar yang sudah, sedang dan tengah kita upayakan tidak akan nampak dan kelihatan, manakala produktfitas kinerja kita, tidak menunjukkan adanya perubahan. Perubahan-perubahan besar yang menjadi cita-cita kita semua akan dapat terwujud manakala kita monorehkan karya-karya besar, kinerja-kinerja besar untuk sebuah perubahan-perubahan besar pula.
Islam dan Manggarai Barat adalah dua kata yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, keduanya merupakan dua sisi mata uang yang memang saling membutuhkan dan saling melengkapi. Islam adalah sistem serta prinsip hidup bagi umat Islam. Islam adalah aqidah dan ibadah, jihad dan politik, system hukum dan perundang-undangan. Sedangkan Manggarai Barat adalah tempat kita berpijak untuk melakukan berbagai aktivitas guna menunjang pengabdian kita kepada sang khaliq. Manggarai Barat adalah ladang amal untuk mengejewantahkan secara operasioanal seluruh ajaran Islam dalam bentuk ibadah. Dan ibadah itu sendiri adalah puncak ketundukan dan kepatuhan kita kepada Allah.
Kini, umat Islam Manggarai Barat dihadapkan banyak persoalan. Dan persoalan ini jika terus dibiarkan, ia akan menjadi kronis, dan kalau sudah mencapai puncaknya, maka cukup sulit dicarikan solusinya. kita akan segera beranjak dari lilitan persoalan itu, manakala kita saling bahu-membahu, kita bergandengan tangan, dengan meneriakan satu kata “persatuan ummat”. Dan persatuan ummat ini akan dapat terrealisasi, jika kita memiliki cara pandang yang sama, cara sikap yang sama dalam memandang berbagai persoalan umat. Kita tidak akan pernah keluar dari kungkungan persoalan, manakala semangat kebersamaan tidak pernah kita pupuk dan ditumbuh-suburkan, serta semangat persaudaraan tidak pernah kita bina.
Jika dalam jiwa dan hati kita, tertanam rasa persaudaraan yang di bangun diatas landansan aqidah yang benar. Jika kita memiliki cara pandang yang sama untuk memecahakan batu besar persoalan yang menimpa umat Islam Manggarai Barat. Dan jika kita sudah keluar dari ego pribadi, serta mencoba keluar, dan lari menuju lapangan dengan memekikkan kata “persatuan umat”. Maka, langkah selanjutnya adalah, kita juga harus menyiapkan sumber daya yang mumpuni. Sebab, kalau semangat kebersamaan saja yang kita bangun, sementara kita tidak memiliki kader potensial yang merupakan representative ke-inetelektualan umat, untuk memperjuangkan aspirasi umat, maka perjuangan kita akan pincang dan sudah barang tentu pengorbanan kita untuk menyatukan cara pandang umat Islam akan sia-sia.
Adanya ketimpangan pembangunan yang terjadi didaerah ini, merupakan isyarat belum adanya keterwakilan umat Islam yang benar-benar representative yang mampu mengawal kebijakan agar berpihak kepada kepentingan umat. Sudah saatnya kita berkaca pada realita, sudah saatnya kita merapatkan shaf merapikan barisan guna merumuskan langkah-langkah strategis, dalam rangka mencari solusi yang konstruktif atas berbagai persoalan yang melilit Umat Islam Manggarai Barat. Dan bukankah Allah telah mengisyaratkan kepada kita bahwa persatuan umat adalah kemestian yang harus terus kita jaga. Dan berpegang teguhlah kamu kepada tali Agama Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai (Q.S. al-Imran : 10)
Oleh : Sumardi, S.pd
Ketua Bidang Dakwah dan Kaderisasi
DPD PKS Manggarai Barat
Modal Dakwah di Daerah Minoritas
Ada begitu banyak hasrat terlintas dan yang berkecamuk dalam alam pikiran, ada begitu banyak harapan kemauan yang terbentang didepan mata. Sebuah harapan yang maha dahsyat, akan perubahan yang di harapkan. Perubhan yang didambakan tentu adanya perubahan cara berpikir dalam memandang dakwah, perubahan cara berpikir dalam menganalisa, merencanakan serta merealisasikan agenda-agenda kerja dakwah, serta menata dan mendesain organisasi yang lebih professional. Tapi, perubahan besar yang diharpakan dan menjadi dambaan semua kader dakwah adalah, adanya perubahan dan penguatan ruhiyah, adanya peningkatan iman untuk terus mendekatkan diri kepada sang khaliq.
Energi Ruhiyah dan Energi Fikriyah merupakan hal asasi yang harus dan di miliki kader dakwah, untuk mengkomunikasikan dengan hikmah nilai-nilai kebenaran Islam, guna memahamkan kebenaran-kebenaran ajaran yang di sampaikan Rasulullah, dalam kerangka membentuk kepribadian muslim dengan mengoptimalkan segala potensi yang di miliki untuk kepentingan Islam.
Harapan-harapan besar ini akan dapat terwujud dan terrealisasi, manakala tradisi-tradisi syuro dan Tarbiyah yang di bangun dalam organisasi dakwah harus hidup, harus terus ditumbuh suburkan, harus terus di rawat dan di jaga dengan mengedepankan asas ukhuwah Islamiyah. Tantangan dakwah yang kita hadapi di Manggarai Barat tentu tidak mudah, selain kondisi geografis yang sangat menantang, kita juga di hadapkan pada pemahaman masyarakat yang masih minim terhadap Islam. Dan pada saat yang sama, tantangan yang kita hadapi juga, adalah tidak terkonsentrasinya umat Islam pada satu tempat dan satu titik, tapi mereka menyebar ke pelosok-pelosok.
Kondisi geografis yang luas dan terpencarnya masyarakat Muslim, menyebabkan kekuatan jasadiyah atau sehat jasmani juga mutlak di butuhkan bagi kader dakwah di daerah minoritas. Naik turun gunung, menerobos hutan rimba raya, lembah lereng kita lewati, dengan kondisi infrastruktur jalan yang rusak parah tentu membutuhkan fisik yang kuat. Kondisi ini membuat kita harus terus menguras energi energy iman, energy berpikir, dan energy fisik dalam mendesain dan merealisasikan dakwah yang dapat menyentuh lerung hati masyarakat.
Oleh : Sumardi, S.Pd
Ketua Bidang Dakwah dan Kaderisasi
DPD PKS Manggarai Barat
Energi Ruhiyah dan Energi Fikriyah merupakan hal asasi yang harus dan di miliki kader dakwah, untuk mengkomunikasikan dengan hikmah nilai-nilai kebenaran Islam, guna memahamkan kebenaran-kebenaran ajaran yang di sampaikan Rasulullah, dalam kerangka membentuk kepribadian muslim dengan mengoptimalkan segala potensi yang di miliki untuk kepentingan Islam.
Harapan-harapan besar ini akan dapat terwujud dan terrealisasi, manakala tradisi-tradisi syuro dan Tarbiyah yang di bangun dalam organisasi dakwah harus hidup, harus terus ditumbuh suburkan, harus terus di rawat dan di jaga dengan mengedepankan asas ukhuwah Islamiyah. Tantangan dakwah yang kita hadapi di Manggarai Barat tentu tidak mudah, selain kondisi geografis yang sangat menantang, kita juga di hadapkan pada pemahaman masyarakat yang masih minim terhadap Islam. Dan pada saat yang sama, tantangan yang kita hadapi juga, adalah tidak terkonsentrasinya umat Islam pada satu tempat dan satu titik, tapi mereka menyebar ke pelosok-pelosok.
Kondisi geografis yang luas dan terpencarnya masyarakat Muslim, menyebabkan kekuatan jasadiyah atau sehat jasmani juga mutlak di butuhkan bagi kader dakwah di daerah minoritas. Naik turun gunung, menerobos hutan rimba raya, lembah lereng kita lewati, dengan kondisi infrastruktur jalan yang rusak parah tentu membutuhkan fisik yang kuat. Kondisi ini membuat kita harus terus menguras energi energy iman, energy berpikir, dan energy fisik dalam mendesain dan merealisasikan dakwah yang dapat menyentuh lerung hati masyarakat.
Oleh : Sumardi, S.Pd
Ketua Bidang Dakwah dan Kaderisasi
DPD PKS Manggarai Barat
Langganan:
Postingan (Atom)